Arsip untuk April, 2008

Tuturut Munding

Posted in cerita hikmah on April 22, 2008 by capjempol

Saya pernah membaca mengenai seorang peneliti satwa. Dimana si peneliti ini memasukan empat ekor simpanse. Sang peneliti beranggapan bahwa simpanse merupakan salah satu hewan yang cerdas dan ingin diteliti mengenai tingkat kecerdasannya dalam kelompok.

Kemudian empat ekor simpanse tersebut dimasukkan kedalam sebuah kerangkeng, dan si peneliti tersebut meletakkan satu sikat pisang di pojok atas kerangkeng dan akan dapat dijangkau oleh para simpanse tersebut.

Melihat ada pisang berada diatas kerangkeng, otomatis naluri simpanse ingin mengambil pisang tersebut.

Nah ketika para simpanse itu mendekati pisang, maka si peneliti itu memukulkan kayu ke lengan para simpanse.

Para simpanse terdiam dulu, lalu mereka mencoba lagi, tetapi ketika akan mengambil, maka si peneliti tersebut memukulkan kayunya lagi.

Maka setiap mau mengambil pisang, si peneliti memukulkan kayunya ke lengan simpanse.

Nah dari kejadian ini, para simpanse mengambil kesimpulan, bahwa kalau mengambil pisang, maka akan terkena pukulan ditanganya, sehingga pisang itu hanya didiamkan saja.

Melihat para simpanse diam tak mau mendekati pisang, maka si peneliti ini mengeluarkan seekor simpanse, dan diganti dengan simpanse yang baru.

Simpanse yang baru ini, melihat pisang tergantung dipojok atas, tentu saja dengan spontan dia mau mengambilnya. Tapi serentak 3 ekor simpanse teriak-teriak mengingatkan si simpanse baru ini agar jangan mengambil pisang tersebut.

“Kemarin aku mau mengambil pisang itu, lihat tanganku bengkak seperti ini!” sahut si simpanse.

“Betul, tanganku bengkak juga!” sahut si simpanse satunya lagi.

“ Pokoknya kalau kamu mendekati pisang itu, maka tangan kamu akan dipukul oleh orang itu!” kata si simpanse menguatkan cerita temannya.

Akhirnya si simpanse baru ini mengurungkan niatnya untuk mengambil pisang tersebut.

Besoknya si peneliti mengeluarkan simpanse yang lainnya lagi dengan simpanse yang baru.

Dan sama dengan simpanse yang baru masuk kemarin, dia langsung mau mengambil pisang tersebut, tetapi lagi-lagi dilarang oleh simpanse yang lama. Dan malahan kera yang belum pernah dipukul juga mengingatkan, bahwa kalau mengambil pisang maka tangannya akan dipukul.

Kemudian besoknya simpanse yang paling lama tinggal di kerangkeng dikeluarkan juga dan diganti dengan simpanse yang baru.

Lagi-lagi simpanse yang baru ini, mau mengambil pisang, tapi lagi-lagi simpanse yang lainnya mengingatkan juga supaya tidak mengambil pisang dengan alasan akan kena pukulan.

Akhirnya setiap ada pergantian simpanse di dalam kerangkeng, maka si simpanse selalu mengingatkan agar jangan mengambilnya, walaupun para simpanse dalam kerangkeng yang sekarang belum pernah dipukul.. Dan pisang pun tetap utuh tidak dimakan oleh para simpanse.

Nah dari cerita ini, kita juga sering dihadapkan oleh sesuatu yang kadang-kadang kita tidak tahu alasannya, tapi sering kita ikuti.
Budaya, pergaulan, mode, trend dan lain-lain yang kita ikut, dengan tanpa tahu maksudnya, merupakan salah satu cerminan kita seperti para simpanse tersebut.

Mari kita kaji apa yang sekarang diperbuat dengan banyak membaca literature, diskusi dengan para ahlinya, sehingga kita tidak masuk kategori orang yang “TUTURUT MUNDING”

Waktu

Posted in puisi-puisi on April 16, 2008 by capjempol

Ambillah waktu untuk berpikir

itu adalah sumber kekuatan

ambilah waktu untuk bermain

itu rahasia dari masa  muda  yang abadi

ambillah waktu untuk membaca

itu adalah sumber kebijaksanaan

ambillah waktu untuk berdoa

itu adalah kekuatan terbesar dibumi

ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai

itu adalah hak istimewa yang diberikan Sang encipta

Ambilah waktu untuk bersahabat

itu adalah jalan menuju kebahagiaan

ambillah waktu untuk tertawa

itu adalah musik yang menggetarkan jiwa

Ambillah waktu untuk memberi

itu adalah hari yang sangat singkat untuk kepentingan diri sendiri

ambillah waktu untuk bekerja

itu adalah nilai keberhasilan

ambillah waktu untuk beriman

itu adalah kunci menuju surga

akhirnyaa…..

Posted in coretanku on April 15, 2008 by capjempol

Setelah sekian lama aku liat teman-temanku membuat blog di wordpress, akhirnya aku nyerah juga untuk mengikuti teman-temanku membuat blog di tempat ini.

tadinya aku ingin buat blog di multiply.com, karena fasilitas yang disediakan cukup menarik, terutama

ada fasilitas download musik. Yaaa karena fasilitas tersebut ditutup, akhirnya aku nyerah juga.

Nah untuk teman-temanku di alam blogg ini, sambutlah aku dengan memberi komen yg positif, pasti akan aku balas

dengan CINTA

Benang lebih tajam dari pisau.

Posted in tahukah anda on April 15, 2008 by capjempol

Kalo kita akan memotong sesuatu, maka yang terbayang adalah sebuah pisau atau cutter sebagai alat pemotongnya.

Tapi taukah kalian untuk memotong selembar kertas, tidak perlu sebuah pisau atau cutter, tapi sebuah benang. Ya benang untuk menjahit. lho kok bisa? Kalo nggak percaya, silahkan coba trik dan tipnya.

1. Lipat kertas yang akan dipotong sesuai dengan keinginan.

2. Setelah dilipat, kemudian siapkan sehelai benang yang cukup panjang dan letakan dibagian dalam lipatan.

3. Kemudian pegang salah satu ujung benang tersebut, dan ujung benang yang lainnya ditarik sesuai dengan lipatan kertas.

4. Dan liat hasilnya, wow ternyata benang bisa memotong kertas seperti  pisau, dan ternyata hasinya lebih rapi.

5. selamat mencoba

“Makasih !” Kenapa tidak?

Posted in cerita hikmah on April 15, 2008 by capjempol

Para ahli komunikasi mengatakan bahwa ada tiga kata ajaib yang mampu membangun hubungan antar manusia, yaitu terimakasih (thank you), maaf (sorry), dan tolong (please). Dan dari ketiga kata itu yang memiliki kekuatan terbesar adalah kata “terimakasih”.
Konon, hal paling hakiki yang membedakan kualitas komunitas manusia satu dengan komunitas lainnya adalah kebiasaan penghuninya mengucapkan kata terima kasih.
Pada komunitas yang lebih sering mengucapkan terima kasih, angka perkelahian lebih rendah dan usia rata-rata penduduk lebih tinggi, demikian sebaliknya.
Aura orang yang suka mengucapkan terima kasih, menurut orang bijak umumnya sejuk dan menularkan kedamaian bagi orang-orang di dekatnya.
Ungkapan rasa terimakasih sebenarnya merupakan ungkapan syukur kita kepada Sang Pencipta atas rahmat yang diberikan.
Orang yang jarang mengungkapkan rasa berterimakasih atau syukur kepada Tuhannya, tentu akan sulit sekali mengungkapkannya kepada orang lain.
Orang yang mengungkapan rasa berterimakasih dengan secara tulus diibaratkan seperti membukus kado tetapi kado tersebut tidak diberikan. Kita bisa merasakan ungkapan tulus seseorang melalui tatapan mata, senyuman atau gesture tubuh, kemudian tangan kita dijabat dan disampaikan ucapan terimakasih. Ungkapan rasa terimakasih yang tulus dapat mendorong seseorang menjadi percaya diri.
David Rayback mengatakan bahwa ungkapan terimakasih mampu mengikatkan dan menguatkan hubungan antarmanusia. Sebagai contoh orang tua mengungakapkan terimakasih ketika anak dapat mengerjakan sesuatu, atau bahkan belum mampu menyelesaikan sesuatu. Dengan ucapan terimakasih ini anak akan menghargai orang tuanya dan si anak akan merasa dekat dan percaya dengan orang tuanya.
Terdapat kesamaan akar kata yang berasal dari bahas latin, yaitu antara kata think (berpikir) dan thank (terimakasih). Seseorang hanya mampu berterimakasih dan mengungkapkannya dengan tulus ketika dia berpikir bahwa apa yang diterimanya saat ini adalah atas pertolongan orang lain. Oleh karena itu wajib berterimakasih, tanpa adanya pemikiran bahwa apa yang diterimanya merupakan pemberian orang lain, mustahil dia mengungkapkannya rasa terimakasih dengan tulus. Terlepas dari apa motivasi seseorang memberikan sesuatu atau menolong kita, sudah selayaknya ungkapan terimakasih diungkapkan dengan tulus.
Ucapan terimakasih yang tulus akan muncul pada saat kita telah berbuat baik kepada orang lain dengan tulus juga. Jangan hiraukan orang lain atau lingkungan kita yang memandang sinis kepada kita pada saat kita melakukan perbuatan baik.
Jangan terlalu mengharapkan ucapan terimakasih dari orang lain, tetapi berupayalah terus menerus memberikan ucapan terimakasih yang proposional kepada setiap kebaikan orang lain.
Ada sebuah cerita bagaimana sebuah dirigen telah selesai memimpin salah satu orkestra, maka serentak seluruh penonton berdiri dan memberikan applaus yang meriah. Sudah selayaknya sang dirigen menunduk untuk merespons tepuk tangan penonton. Akan tetapi tidak demikian dengan dirigen yang satu ini. Ketika penonton memberikan applaus, dia tidak tersenyum. Tepuk tangan masih menggema diruang konser tersebut, penonton masih heran karena dirigen ini tidak menunduk? Beberapa penonton mulai gerah dan berkomentar miring.
“Sombong banget nih dirigen ini, nggak mau nunduk, senyum pun ogah!” sahut penonton.
“Baru kali aku liat dirigen yang belagu seperti ini!” sahut penonton lainnya.
Setelah sekian lama tidak menunduk, tiba-tiba diatas balkon ada seorang tua berdiri, mengangguk sambil tersenyum, dan bertepuk tangan ke arah dirigen. Barulah dirigen tersebut mengangguk dan tersenyum memandang kea rah orang tua tersebut dan kepada seluruh penonton. Orang tua itu ternyata adalah pelatihnya.
Mari kita biasakan mulai hari ini, jika kita mendapatkan pertolongan sekecil apapun dari seseorang untuk menyampaikan rasa terikasih yang tulus dan lihatlah dampaknya yang sangat luar biasa.

(Dari berbagai sumber)

Mengapa Beo Selalu Menirukan Suara

Posted in cerita hikmah on April 14, 2008 by capjempol

Oleh: Maria Erliza
(Bobo No. 8/XXX)

Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba. Ia berkata,
“Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwa manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini.”
Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.
“Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai. Berilah kami waktu,” ujar Singa mewakili teman-temannya.
“Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia.”
Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.
Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.
“Aouuuuum,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.
Tapi tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.
“Hahaha, mirip orang sakit gigi,” cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak.
Singa sangat malu mendengarnya.
Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.
“Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki,” ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik.
“Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa,” ejeknya kepada Kuda.
“Ban siapa yang bocor? Hahaha,” ia menertawakan suara desis Ular.
Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru. Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.
“Mbeeeek,” tirunya ketika melihat Kambing.
“Ngok-ngooook,” tirunya ketika melihat Babi.
Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih.
Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.
Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan.
“Mbeeeek,” jeritnya.
“Hei itu suaraku,” kata Kambing.
Yang lain tertawa.
Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.
“Muuu,…guk-guk,…meong,” Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.
Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf kepada teman-temannya.
Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, “Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya.”
Begirulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara

PESAN SANG AYAH

Posted in cerita hikmah on April 14, 2008 by capjempol

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya
berpesan dua hal:
- pertama jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu,
- dan kedua jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya
terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah
ayahnya
meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi
semakin miskin.

Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu: Inilah karena saya mengikuti pesan ayah.
Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang
berhutang kepadaku,
dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku
tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih.

Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko
dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari.
Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki
saja cukup,
tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah
banyak.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang
sama.
Jawab anak sulung: Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah.
Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang
kepada saya,
maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut.

Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang
dari toko tidak boleh terkena sinar matahari,
maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah
matahari terbenam.
Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah
toko yang lain tutup.

Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris
,karena mempunyai jam kerja lebih lama.
Bagaimana dengan anda?

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan
presepsi yang berbeda
jika kita melihat dengan postif attitude maka segala kesulita sebenarnya
dalah sebuah perjalanan membuat kita sukses
tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas
kita . pilihan ada di tangan anda.

Berusaha melakukan hal biasa yang dikerjakan dengan cara yang luar biasa

Kisah Pohon Apel

Posted in cerita hikmah on April 14, 2008 by capjempol

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika masa kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah sebenarnya cara kita memperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Tukang Kayu dan Rumahnya

Posted in cerita hikmah on April 14, 2008 by capjempol

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.

‘Ini adalah rumahmu, ‘ katanya, ‘hadiah dari kami.’ Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab.Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan ‘rumah’ yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan ‘rumah’ kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Kelinci Hebat

Posted in cerita hikmah on April 14, 2008 by capjempol

Se-ekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci itu berkata :’Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan
yang menang, dan saya yakin saya akan menang.’

Sang Rubah jantan merasa tertantang,’dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?’ Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.

Sang Kelinci kembali bersantai,Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya,Lalu kelinci berkata :’ Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci,Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang.’Sang serigala merasa tertantang, ‘ dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?’ Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir, Tiba tiba datang se-ekor beruang besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata :’ Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci,Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang.’Sang Beruang merasa tertantang, ‘ dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?’ Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci,Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.

Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai ‘Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan !! ‘

Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata ‘ Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang.’

Nb.
Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.

Untuk membentuk ikatan ukhuwah harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama: [MESKIPUN] DENGAN SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LEBIH BAIK DARI KITA Siapa akan memulai kebaikan hari ini?