Tanggal 27 Januari 2010 sekitar jam 1 siang terlihat di bandung cuaca sangat panas sekali. “Wahh….pertanda gak baik nih, pasti nanti sore pasti hujan badaggg”
Ternyata dugaanku benar! Sekitar jam 3 sore langit terlihat gelap dan
angin berhembus cukup kencang. Di susul dengan kilatan petir mempertegas
keadaan disore itu.
“Kondisi yang membuat diri ini tidak bakalan langsung pulang dehhh….”
Akhirnya air dari langit ditumpahkan dengan diiringi suara angin menderu-deru dan kilatan petir menyambar-nyambar (meuni asa novel pisan gaya bahasana…..)
Sudah terbayang jadinya kota Bandung kalau di beri anugrah berupa hujan ini,
pasti bakalan repot deh semuanya? mulai dari kemacetan lalu lintas, banjir cileuncang, sungai meluap sampai rumah pada bocor.
Dan benar saja ketika hujan sudah mulai reda dan aku mulai memberanikan
diri untuk pulang, di sepanjang jalan yang dilalui terlihat macet dan banjir cileuncang. Arus lalu lintas banyak yang dibelokan karena jalan yang dilalui terhalang banjir. Jelas ini membuat penderitaan bagi semua para pengemudi yang harus melawan pegalnya kaki dan tangan untuk mengurus rem dan kemudi belum ditambah dengan dinginnya kota bandung.
Waktu yang ditempuh dari kantor sampai rumah biasanya hanya 30 menit,
pada hari itu extra time banget dan extra energi.
Diperjalan yang terbayang adalah secangkir teh hangat ketika datang ke rumah.
dan makanan yang hangat dan menyegarkan.
Setelah tiba…..senyuman dan sambutan hangat sang istri ternyata cukup
ampuh untuk mengembalikan energi yang hilang diperjalanan, apalagi dengan
secangkir teh manis……..SEGERRRR BENERRRR






“Tan kumaha motor geus beres?” kata kakaku.
Saat matahari terbit dan terbenam, sinar dari matahari melakukan perjalanan yang lebih panjang dibandingkan dengan diwaktu lain seperti siang karena jarak antara kita dan matahari di waktu terbit dan terbenam lebih jauh dibandingkan diwaktu siang. Warna sinar yang mampu mencapai kita adalah warna yang mempunyai gelombang sinar lebih panjang yaitu merah. Inilah




buat perut kenyang.
